Posted by: imronhamzah | November 23, 2008

Kisah Sukses Pendiri KFC

Kol. Sanders

Kol. Sanders

Inilah kisah kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Namun dia memiliki keahlian dalam memasak dan menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Kolonel Harland Sanders adalah pelopor Kentucky Fried Chicken atau KFC yang telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam industri waralaba makanan siap saji di dunia.

Sosok Kolonel Sanders, bahkan kini menjadi simbol dari semangat kewirausahaan. Dia lahir pada 9 September 1890 di Henryville, Indiana, namun baru mulai aktif dalam mewaralabakan bisnis ayamnya di usia 65 tahun. Di usia 6 tahun, ayahnya meninggal dan Ibunya sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga Harland muda harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Di masa ini dia sudah mulai menunjukkan kebolehannya.

Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah, sehingga ia meninggalkan rumah tempat tinggalnya untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah Greenwood, Indiana. Selepas itu, ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

Pertama, sebagai tukang parkir di usia 15 tahun di New Albany, Indiana dan kemudian menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan ke Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel.
Di usia 40 tahun, Kolonel ini mulai memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin. Kolonel Sanders belum punya restoran pada saat itu. Ia menyajikan makanannya di ruang makan di bengkel tersebut. Karena semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran bisa menampung 142 orang.

Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini. Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi negara bagian Cuisine. Dan pada tahun 1939, keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines “Adventures in Good Eating.” (karir-up.com)

Posted by: imronhamzah | November 23, 2008

Ciputra Lebih Kokoh Melawan Krisis

pciBelajar dari pengalaman krisis moneter 10 tahun lalu, pengusaha Ciputra kini lebih siap menghadapi krisis. Satu yang dibanggakannya, saat krisis kali ini ia tidak memiliki utang seperti satu dasawarsa lalu.

Sosok yang satu ini bisa dibilang sebagai seorang pengusaha ulung, gerak-gerik bisnisnya seakan-akan tidak ada matinya.

Ciputra, yang biasa dipanggil akrab Pak Ci, hingga kini masih menahkodai bisnisnya sebagai di grup Ciputra seperti PT Ciputra Development Tbk, PT Ciputra Surya Tbk dan PT Ciputra Properti Tbk.

Masa-masa krisis baginya memberikan kesan tersendiri seperti saat krisis moneter menerjang Indonesia pada tahun 1998.

Ia mengaku pada masa itu ia berutang habis-habisan karena lesunya pasar properti pada masa itu. Bahkan utangnya sempat menggunung melebihi total penjualannya.

Krisis keuangan tahun 2008 kali ini relatif lebih baik bagi bisnisnya karena sepanjang kurun waktu 10 tahun lalu ia terbebas dari utang.

“Justru nggak, waktu 10 tahun lalu krisis 1998 kita punya utang 18 kali dari sales kita, 18 kali utang kita dari pada penjualan kita. Kalau sekarang terbalik, sales kita 18 kali dari utang kita,” ungkapnya disela-sela acara Ernst & Young Award 2008 di Hotel Mulia, Jakarta, 19 November 2008.

Selain tidak berutang, salah satu alasan mengapa ia begitu optimistis kalau bisnisnya sekarang relatif aman. Karena ia sekarang ini lebih fokus bisnis perumahan landed house dan mall, sedangkan untuk apartemen dan kondominium menurutnya lebih berisiko tinggi.

“Kita sudah belajar dari 10 tahun yang lalu, dengan prudent dan lebih hati-hati, pinjaman sedikit mungkin jadi kita sudah IPO dan rights issue, tidak meminjam. Praktis kami tidak meminjam sejak 10 tahun lalu,” paparnya.

Ciputra mengaku tidak bisa memprediksi lebih jauh mengenai kondisi sektor properti pada tahun depan, termasuk langkah bisnis selanjutnya karena masih harus dibicarakan lebih lanjut dengan manajemen.

“Kami sedang menunggu sampai Januari, akan berapa banyak terpengaruh kepada krisis, kita lebih pada landed house kita bergerak pada rumah besar, sedang maupun kecil,” ujarnya.

Mengenai kondisi perbankan yang mulai mengerem kredit KPR dan menaikkan sukubunga KPR, diakuinya cukup mempengaruhi bisnisnya, namun ia berharap masalah ini bisa segera berlalu di tahun depan.

“Kita bergantung dari pada KPR, kalau ada KPR target kita tidak berkurang, cuma sekarang KPR naik, jadi makanya menunggu satu bulan ke depan diharapkan KPR akan lancar lagi. Jadi kita tergantung dengan KPR, apakah mendukung pertumbuhan kita,” katanya.

Ia menambahkan semua proses pendanaan bisnis propertinya lebih banyak melalui IPO yang dilanjutkan dengan right issue dan hasil penjualan. “Tidak ada obligasi,” jelasnya.(detikfinance)

Posted by: imronhamzah | September 7, 2008

Sebuah Renungan : Bersyukurlah…

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS Ibrahim:7)
Saat kehilangan sesuatu, saat mengalami kerugian, atau saat tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, sering kali jiwa kita terguncang sehingga patah semangat, tidak lagi memiliki motivasi. Kita sering lupa mensyukuri yang sudah kita miliki, kita juga sering melupakan hikmah yang tak ternilai dari suatu kegagalan yang harusnya kita syukuri.
Padahal berdasarkan ayat diatas, jika kita mau bersyukur maka Allah menjanjikan akan menambah nikmat kita. Oleh karena itu kita seharusnya menysukuri apa yang sudah Allah berikan kepada kita, kita juga harus mensyukuri apa yang kita dapatkan meskipun sekecil apa pun. Ini adalah rahasia melipat gandakan nikmat kita. Saat kita berusaha, syukurilah nikmat yang kita dapatkan agar ditambah oleh Allah SWT. Jadi, tetaplah semangat meski hasil kita kecil, sebab jika kita mensyukurinya, yang kecil
tersebut bisa menjadi besar. Sangat ironis, sudah kecil, tidak kita syukuri. Alangkah bodohnya orang yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah SWT. Mereka sering menyangka bahwa yang namanya nikmat itu adalah rezeki dalam bentuk materi yang jumlahnya besar. Padahal tidak, nikmat yang sudah kita dapatkan itu sangat banyak, jika kita berusaha untuk menyebutkannya, kita tidak akan bisa. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran,
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim:34)
Nikmatilah hidup, tetaplah semangat meski penghasilan kita kecil, karena kita bisa melipat gandakannya dengan mensyukurinya. Renungkanlah, betapa banyaknya nikmat yang sudah kita miliki. Jangan risau, jangan takut untuk gagal, sebab kegagalan sebesar apa pun tidak akan menghabiskan nikmat-nikmat yang ada pada diri kita.

Posted by: imronhamzah | September 6, 2008

Antara Kebenaran dan Keikhlasan

Alhamdulillah, Allah masih mengaruniai kita bulan yang dahsyat, bulan yang seluruh syetan dibelenggu, amalan2 sunnah dinilai sepadan amalan wajib dan amalan wajib dinilai 70 kali lipat dibanding bulan2 biasanya. Ya, bulan romadhon ini tidak boleh kita sia-siakan. Sebab, di bulan inilah kasih sayang Allah benar2 dilimpahkan kepada hamba2Nya yang beriman dan sholeh.
Maka, sudah pasti di bulan inilah kita berpeluang untuk mengetahui jadi diri dan kejujuran hakiki diri kita. Saya bilang demikian, karena amalan2 pada bulan ini yang mengetahui adalah kita dan Allah saja. Tidak ada yang “benar-benar” tahu apakah kita berpuasa atau tidak kecuali Allah SWT. Karena itu, saya lebih senang menyebut bulan ini sebagai ajang untuk berprestasi dalam dalam Keikhlasan dan Kebenaran.
Antara Keikhlasan dan Kebenaran, atau bisa dibalik, adalah hal paling penting dalam amalan kita kepada Sang Kholiq yang memberikan kita nikmat yang tiada tara ini. Dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi mata uang yang selalu lengket dan berdampingan.
Amalan kita tidak diridhoi manakala meninggalkan salah satu di antaranya. Contohnya, kita sudah merasa beramal secara benar, tapi amalan kita bersandar kepada sesuatu yang salah seperti ingin dipuji, supaya kelihatan sholeh dan alim, supaya mendapat pahala bukan ridhoNya, dll. Maka, jelas ini tidak diterima Allah. Begitu pula misalnya, kita sudah berusaha mati2an untuk ikhlas tapi kita ikhlasnya dengan thoriqah (metode) yang salah yang tidak dicontohkan Allah. Mungkin sering kita baca atau dengar, ada orang yang supaya khusyu’ sholatnya dengan cara menambah2 jumlah rakaat sholat yang tergolong bid’ah atau ada orang yang sholat dengan cara melafalkan terjemahannnya bukan arabnya seperti contoh Rasulullah,dll, maka ini juga jelas melanggar syara’nya. Maka ini juga tidak akan diterima malah cenderung mengarah kepada musyrik.
Jadi, agar Ibadah Puasa berikut amalan2 di bulan ini sangat maksimal dan dinilai Allah sebagai amalan sholeh maka sudah pasti Keiklhlasan dan Kebenaran harus dipegang dua2nya.
Semoga Allah memberi kita KEKUATAN IMAN, KESABARAN DAN KERIDHOAN di bulan maha dahsyat ini. Jangan Sia2akan bulan yang sebentar lagi meninggalkan kita. Mari tiru Rasulullah dan Sahabatnya yang menangis tatkala ditinggalkan bulan penuh berkah, maghfiroh dan ampunan Allah ini. Ya Allah, Sungguh Telah Kami Sampaikan,Maka Saksikanlah.

regards
Imron NIQ

Posted by: imronhamzah | August 11, 2008

Dari UKM(elarat) ke UKM(iliaran) Berkat Sedekah

Hendi Setiono, Bos Kebab Turki Baba Rafi

Namanya Hendi Setiono. Dia masih sangat muda, baru 25 tahun. Tapi, sepak terjang bisnisnya sudah tak diragukan lagi. Kalau Anda menjumpai mobil Nissan X-Trail bernomor polisi K 38 AB di jalanan, itulah mobil Hendi. Pelat nomor seharga Rp 16 juta itulah yang membuat orang mudah mengenali dan menyapanya ketika sedang jalan-jalan dengan mobilnya. “Biasanya tukang parkir menggoda, bayarnya pakai kebab saja,” ujarnya lantas tertawa.

Pelat nomor sengaja dibuat K 38 AB untuk mendekati kata kebab. Berkat kebab inilah, nama Hendi sebagai pengusaha muda sukses, terukir.

Hendi adalah pendiri dan presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia. Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil inovasi bisnisnya. Dia memulai bisnis itu dengan modal hanya Rp 4 juta. Dia enggan meminta bantuan orang tua. “Itu duit hasil pinjam arek-arek (teman-temannya, Red) dan saudara,” kisahnya.

Outlet makanan ala Timur Tengah itu kini berjumlah 325, membentang dari kawasan superramai seperti Jakarta hingga pelosok Ambon. Ratusan outlet itu dipantau dan disupervisi dari dua kantor operasional di kawasan Nginden, Surabaya, dan Pondok Labu, Jakarta. Tahun lalu omzet usahanya mencapai Rp 45 miliar, dan 25 persen di antaranya masuk kantongnya sebagai laba bersih. “Tahun ini omzetnya saya targetkan Rp 60 miliar,” ujarnya.

Apa yang sudah dipunyai Hendi dari keberhasilannya berbisnis? Hendi tampak agak malu menjawab pertanyaan ini. Sekulum senyum kecil dikeluarkannya. “Apa ya? Ehm, ada beberapa, Mas. Alhamdulillah. Masak disebutkan?” katanya masih diiringi senyum.

Dia terbatuk sebentar. Agak ragu, tak lama kemudian, Hendi mulai menjawab. “Aset yang pertama saya beli Yamaha Mio,” ujarnya. Dia membeli motor itu beberapa bulan setelah memulai berbisnis. “Ke mana-mana saya pakai motor itu,” tuturnya.

Setahun pertama, Hendi mengaku “hanya” mendapat penghasilan bersih per bulan Rp 20 juta. “Wah, rasanya sudah seneng banget. Baru umur 20 tahun, penghasilan sudah Rp 20 juta sebulan,” ceritanya.

Setelah membeli Yamaha Mio? “Sekarang kasihan motor itu, sudah nggak muat nampung badan saya semakin melar. Jadi, cari motor yang agak gedean, pakai Harley-Davidson,” ujar nominator Asia’s Best Entrepreneur Under 25 versi Majalah BusinessWeek tersebut.

Selain itu, Hendi punya dua rumah; satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya. Di Surabaya, dia membeli rumah di salah satu kawasan elite, Perumahan Bumi Galaxy Permai. Soal rumah yang satu ini, Hendi punya cerita tersendiri. “Ini rumah idaman saya,” tuturnya.

Dulu, cerita Hendi, semasa masih duduk di bangku kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS, setiap pulang dari kampus, Hendi yang kala itu tinggal di Semolowaru, Surabaya, selalu melewati kawasan perumahan itu. Dia sering berhenti sejenak di perumahan elite itu. Saking seringnya mondar-mandir di perumahan itu sepulang dari kampus, dia sampai kenal dengan sejumlah satpam di sana. “Rumahnya besar-besar, megah-megah. Kelak saya ingin punya rumah seperti ini,” tekadnya ketika itu.

Hendi mengaku terkagum-kagum dengan rumah-rumah di kawasan itu. “Bahkan, hujan saja nggak banjir, beda dengan rumah saya. Halaman depannya itu lebih luas daripada rumah saya di Semolowaru,” kisahnya.

Dari proses itulah Hendi yakin bahwa mimpi yang terus disemai akan bisa mewujud jika diiringi pancangan semangat yang kuat untuk mewujudkannya. “Semuanya berangkat dari impian. Alhamdulillah, saya kemarin berangkat ke Jakarta (wawancara dengan Hendi dilakukan di Jakarta beberapa waktu lalu, Red) sudah dari rumah di Galaxy Bumi Permai,” ceritanya. “Kalau saya tidak berani mulai jualan pakai gerobak, semua mimpi itu hanya tinggal mimpi,” imbuhnya.

Dengan segala apa yang dimiliki kini, Hendi lebih leluasa menyalurkan hobinya berjalan-jalan. Setiap mengisi seminar di berbagai kampus di Indonesia, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi berbagai tempat wisata. “Saya lebih suka ke tempat wisata yang alami, lihat pantai, lihat hutan,” ujarnya.

Jalan-jalan ke luar negeri juga sudah menjadi rutinitas yang sangat biasa bagi salah satu 10 Tokoh Pilihan 2006 versi majalah Tempo tersebut. “Dulu jalan-jalan ke luar negeri itu jadi mimpi, sesuatu yang wah, seolah nggak terjangkau. Alhamdulillah, sekarang udah sering,” tuturnya.

Hendi tak melupakan sedekah. Dananya secara tetap didonasikan ke tujuh yayasan yatim-piatu. “Saya menyadari sulitnya kehidupan mereka karena orang tua saya juga bukan orang kaya,” katanya. Dia yakin, jika seseorang tak perhitungan dalam sedekah, rezeki yang diberikan Tuhan akan terus mengalir. “Saya yakin istilah inden rezeki. Orang biasanya membayar zakat 2,5 persen dari keuntungan. Saya membaliknya, sebelum ada untung, harus bayar zakat dulu,” ujarnya. “Pokoknya, kalau omzet turun, kita hajar dengan sedekah,” imbuhnya.

Di luar itu Hendi hampir tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk hobi yang tidak jelas. Misal, clubbing di tempat hiburan malam. “Kalau jalan-jalan ke mal, itu rutin. Tapi, saya dan keluarga tidak konsumtif. Paling-paling hanya lihat tren fashion saat ini untuk diterapkan ke bisnis saya. Misalnya, untuk desain pakaian karyawan dan outlet-outlet,” ujar pria kelahiran 30 Maret 1983 itu. Ketika jalan-jalan itu, Hendi tak khawatir dengan roda bisnisnya. “Owner-nya bisa jalan-jalan, yang mantau manajemen di Surabaya dan Jakarta.”

Hendi lebih suka memakai uangnya untuk melebarkan sayap bisnis. Dia yakin bahwa tak boleh ada kata berpuas diri dalam jiwa seorang pebisnis. Dia kini meretas gerai Roti Maryam Aba-Abi, roti khas Timur Tengah. “Sekarang baru 40 outlet, mayoritas masih di Jatim,” kata Hendi yang, bersama aktris Dian Sastro dan Artika Sari Devi, menjadi duta Wirausaha Muda Mandiri tersebut.

Tak hanya itu, insting bisnis yang kuat membawa pria berbadan subur itu mendirikan Baba Rafi Palace. Sudah dua pondokan megah yang disewakan di Surabaya. “Di Siwalankerto, ada 18 kamar dengan tarif Rp 700 ribu per bulan per kamar. Lalu di Prapanca ada 16 kamar, tarifnya Rp 1,2 juta per bulan,” ujarnya.

Satu lini bisnis makanan juga sedang disiapkan Hendi. “Lagi ngerjakan Piramida Pizza. Kalau biasanya pizza ditaruh loyang, ini mau ditaruh di cone. Jadi, makan pizza bisa sambil jalan-jalan, seperti makan es krim,” terang bapak dengan tiga anak itu.

Dia juga bakal berekspansi ke luar negeri. “Di Malaysia saya baru aja bikin Baba Rafi Malaysia Sdn Berhad. Target awalnya mendirikan 25 outlet kebab,” ujarnya.

Dari UKM(elarat) ke UKM(iliaran)

Hendi memulai bisnis dengan terseok-seok. “Tentu tidak langsung bombastis seperti sekarang. Saya harus jatuh bangun, berdarah-darah.” Dia mengisahkan, saat baru dua minggu berjualan kebab dengan satu gerobak di kawasan Nginden, Surabaya, orang yang diajaknya berjualan sakit.

Dari semula berjualan berdua, dia pun memutuskan menunggui gerobaknya seorang diri. “Ndilalah hari itu hujan deras, jadi sepi,” ceritanya. Untuk menghibur diri, hasil jualan hari itu dibelikan makanan di warung sebelah tempat gerobaknya berdiri. “Di sana ada warung sea food. Saat saya membayar, eh ternyata lebih mahal daripada hasil jualan saya. Jadi, malah rugi,” kisahnya.

Hendi memulai bisnis kala berusia 20 tahun. Dia berhenti kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS saat masuk tahun kedua. “Belum sempat di-DO (drop out, Red), saya OD, out dhewe (keluar sendiri, Red),” ujarnya lantas tertawa.

Ibunya yang pensiunan guru dan bapaknya yang bekerja di sebuah perusahaan di Qatar shock melihat keputusan Hendi. “Orang tua saya ingin saya selesai kuliah, lalu kerja di perusahaan. Bukan malah jualan pakai gerobak,” katanya. Namun, Hendi bergeming. “Setelah berhasil, orang tua malah ingin ikut-ikutan berbisnis,” kata ayahanda Rafi Darmawan, 5, Reva Audrey Sahira, 3, dan Ready Enterprise, 1.

Kini bisnisnya terus membesar. Dari hanya satu karyawan, kini perusahaannya mempekerjakan 700 karyawan. “Yang jadi manajemen inti 200 orang. Semuanya lulusan S1 dan S2,” ceritanya, bangga.

Dia mengibaratkan perjalanan bisnisnya dengan dua istilah UKM yang berbeda. “Dulu kami hanya UKM, usaha kecil melarat. Sekarang masih UKM, tapi usaha kecil miliaran,” tuturnya.

Sekarang ada satu mimpi yang bakal diwujudkan tahun ini. “Saya ingin mengajak semua keluarga jalan-jalan ke Eropa.” (jppn)

Posted by: imronhamzah | August 11, 2008

Pengusaha Kecelakaan Yang Sukses

Sandiaga S. Uno, Orang Terkaya ke-63 di Indonesia

Di negeri ini, jumlah pengusaha sukses masih sedikit. Lebih sedikit lagi jika mencari pengusaha masih muda, sukses, dan kaya. Tiga orang ini memenuhi kriteria tersebut. Umur mereka belum 40 tahun, tapi kesuksesannya tak diragukan lagi. Siapa saja mereka?

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia baru saja lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.

Sandi -demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa- tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya USD 245 juta.

Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orang tuanya. ”Orang tua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.

”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.

Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.

Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”

Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum se-booming sekarang. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.

Dia sesekali menyeruput air putih yang terhidang di sebuah ruang di kantornya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat menemui Jawa Pos. Sesekali pula dia menerima telepon dari sejumlah koleganya. Bahkan, dia sempat menjawab pertanyaan wartawan lewat telepon. Sandi dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Dia tak membeda-bedakan orang dalam bergaul. ”Makin banyak teman kan makin enak,” kata bapak berputri dua itu.

Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja, Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.

Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja, Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.

Di tanah air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah The George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.

Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tutur ayah dari Anneesha Atheera dan Amyra Atheefa itu.

Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke tanah air. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua,” katanya.

Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.

Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”

Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.

Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.

Terpaksa ke Mal demi Anak

Sandiaga S. Uno adalah citra kesuksesan. Semua orang tahu hal itu. Namun, di balik aktivitasnya yang padat, dia merasa berdosa kepada keluarga. Sebab, waktunya hampir habis tersita untuk aktivitas bisnis dan organisasi. “Saya merasa nggak adil sama keluarga. Saya kerja begini untuk siapa? Rasanya ada yang hilang,” tutur Sandi.

Sandi mengaku, biasanya menjadikan Sabtu-Minggu sebagai hari untuk keluarga. Itu pun sangat terbatas. “Saya paling suka ke Senayan. Pasti Sabtu olahraga bareng keluarga di sana. Pagi lari, agak siang sedikit pukul-pukul bola, golf,” ceritanya.

Kemudian, biasanya mereka sekeluarga jalan-jalan ke mal. “Sebenarnya, saya paling nggak suka ke mal. Tapi, ya sedikit menyenangkan anaklah,” kata Sandi yang mengaku tak tertarik terjun ke dunia politik.

Namun, waktu yang singkat itu kadang terampas. Misalnya, akhir-akhir ini menjelang Kongres Hipmi, dia harus lebih sering berkunjung ke daerah, mengonsolidasikan pengurus-pengurus Hipmi di daerah. “Terus terang, saya barusan dimarahi anak. Mereka protes karena akhir pekan kemarin, saya nggak bisa kumpul bareng keluarga,” ujarnya. “Kata anak saya yang kecil, ‘Pa, keluarga kan lebih penting’,” ucapnya menirukan perkataan sang anak.

Sandi lantas tertawa mengingat polah lucu sang anak itu. “Jujur, saya selalu ingin ada di samping mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik,” tambahnya dengan mimik serius.

Karena itu, Sandi kerap berangan-angan bahwa sehari itu bukan 24 jam. “Seandainya sehari itu ditambah empat jam saja, tambahan empat jam tersebut akan saya habiskan bersama keluarga,” tegasnya.

Posted by: imronhamzah | August 11, 2008

Masih Muda, Sudah Miliarder, Ingin Menjual Kegagalan

Naomi Susan (paling kanan) saat jadi pembicara Super Entrepreneur Forum

Naomi Susan (paling kanan) saat jadi pembicara Super Entrepreneur Forum

Pengusaha yang satu ini baru berusia 33 tahun. Dia cerdas dan cantik. Orang mengenalnya dengan panggilan: Naomi Susan. Bos di Grup Ovis tersebut punya garapan bisnis yang beragam. Tapi, dia mengaku bingung soal jumlah asetnya. “Saya bingung kalau ditanya soal aset atau kekayaan yang sudah saya miliki. Berputar sih, jadi susah menghitungnya,” ujarnya lantas tertawa.

Rambut panjangnya yang dicat dengan warna keemasan dibiarkan tergerai. Mengenakan blazer krem, penampilan Naomi tampak pas dipadu celana panjang warna senada. Seuntai kalung indah bermata huruf NS (singkatan dari namanya) mengitari lehernya. “Terima kasih,” ujarnya saat dipuji Jawa Pos bahwa penampilannya begitu sempurna.

Lisptik merah dioleskan tipis di bibir mungilnya. Make-up-nya cukup natural. Meski demikian, dia mengaku berdandan dulu di salon sebelum menemui Jawa Pos. “Makanya aku sedikit terlambat,” tuturnya. Naomi lantas memesan seporsi pisang goreng keju dan lumpia sebagai teman berbincang.

Naomi adalah pemegang rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembeli pertama notebook berlapis emas dan bertakhtakan berlian. Dia membeli komputer jinjing itu seharga Rp 100 juta. Perempuan kelahiran 15 Januari 1975 itu kini menakhodai sejumlah perusahaan yang berkibar di bawah Grup Ovis. Mulai Ovis Utama, Ovis International, Ovis Bursa Bisnis, Ovis Direct Connection, Ovis Pro-interactive. Ovis Sendnsavem, dan OvisSms. Naomi juga tercatat sebagai CEO di Naomi Susan (NS) Group. Di NS Group itu, ada perusahaan-perusahaan macam Natural Salon, Nice Shot Studio, iNSpired Indonesia, Creative Solutions, dan Institute Optopreneur Representative Indonesia. Gurita bisnis membentang dari kafe, kartu diskon, hingga salon.

Dari Ovis International saja, dia pernah menyebut mengantongi keuntungan Rp 2 miliar per bulan. Ada 200 perusahaan lebih yang menjadi kliennya. Tapi, dia selalu mengelak ketika diminta menyebutkan jumlah kekayaannya. “Berapa ya, waduh bingung, Mas,” katanya.

Namun, dia meminta orang tak memandang dirinya dari luar saja. “Jangan dilihat, sekarang Naomi itu hidup enak, mau ngapaian aja bisa. Tapi, lihat prosesnya,” ujarnya dengan mimik serius.

Dia menekankan bahwa hasil memuaskan itu butuh proses. Butuh kerja keras. Kerap kali pil pahit justru harus ditelan jika ingin sukses berbisnis dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. “Jika saya sudah sampai seperti saat ini, tentu saya bersyukur. Tapi, ingat, ini bukan sesuatu yang tiba-tiba,” ujarnya.

Naomi adalah prototipe pekerja keras. Latar belakang keluarganya sederhana. Dia menyaksikan sendiri ketika sang ibu harus berpisah dengan ayahnya. “Kerja keras Mama membimbing kami, menyekolahkan anak-anaknya membuat saya tahu apa itu arti perjuangan,” ceritanya. “Saya terbiasa mandiri. Terbiasa menerima hal-hal yang pahit.”

Dia mengenang, dulu ketika duduk di bangku SMA, sudah membantu tantenya berbisnis jual-beli tanah. “Saat itulah saya bisa mencari uang sendiri,” kenangnya. “Rasanya bangga bisa cari uang sendiri,” lanjut penggemar sea food itu. Sesekali Naomi menata rambut panjangnya.

Sepulang dari AS pada 1995, pascakuliah di University of Portland, Oregon, dia memulai karir sebagai manajer pemasaran di Indomarble Machinery. Di sana hanya setahun. Dia kemudian berlabuh menjadi account executive di sebuah perusahaan periklanan. Namun, itu pun hanya setahun.

Dia kemudian memutuskan mencoba menginvestasikan uangnya ke pasar modal. Itulah kali pertama bagi Naomi berbisnis dengan uang sendiri. Ketika membantu sang tante jual-beli tanah semasa SMA, dia lebih berperan menjadi semacam asisten. “Pertama kali mulai mencoba memutar uang pribadi, saya justru menghadapi hal yang tidak mengenakkan,” cerita penggemar warna merah itu.

Saat itu dia memutuskan menginvestasikan tabungan dengan membeli saham di lantai bursa. Dia mengaku kalah banyak karena saham yang dibeli jeblok. “Saat itu saya mulai berpikir nggak mau lagi bisnis pakai uang sendiri. Kalau nggak berhasil, bisa hancur lebur,” ceritanya. Dia berpikir, lebih enak bekerja menjadi karyawan di perusahaan orang lain. “Penerimaan stabil, dapat gaji setiap bulan. Lebih aman,” ujarnya.

Dia hampir frustrasi. Naomi pun ingin menutup rasa sesalnya dengan melanjutkan kuliah ke Australia. Namun, di antara kebimbangan itu, Naomi yang masih trauma berwiraswasta memutuskan ingin menjadi karyawan swasta. Surat lamaran pun dilayangkan ke PT Ovis Utama, perusahaan yang kelak dia nakhodai dan membawa namanya diperhitungkan sebagai miliarder muda. Ovis, kala itu, adalah perusahaan jaringan diskon. Bidang garapannya masih di jaringan diskon restoran. “Saat itu (lamaran) saya sempat ditolak, tapi kemudian dipanggil lagi,” katanya. Sejak saat itu, Naomi yang masih betah melajang ini berkarir sebagai staf public relation di Ovis.

Tak berselang lama, Naomi ditawari membeli saham di perusahaan tempat dia bekerja. Itu terjadi kala memegang franchise dari Card Connection International. “Aku semula ragu, takut menggunakan uang pribadi dalam berbisnis,” katanya. Namun, akhirnya dia bertekad mengambil tantangan tersebut. Saat itu Ovis memegang lisensi dari Card Connection International. Dia pun melejit lewat anak usaha Ovis, PT Ovis International yang bergerak di bidang kartu diskon card connection.

Naomi yang mengaku tak punya tempat liburan favorit itu kemudian mampu melewati fase krisis 1997-1998 dengan manis. Dia, berbekal keberanian memutuskan hal-hal krusial dalam waktu yang singkat, mampu membawa perusahaannya melebar, merambah ke bidang restoran, kafe, jual beli properti, sampai pesawat carter. Bahkan, kini dia pun merambah ke bisnis waralaba salon.

Saya Ingin Menjual Kegagalan

Naomi Susan termasuk orang yang tidak pelit membagikan ilmu. Dia tak segan-segan membagikan tip berbisnis kepada kolega-koleganya. “Dengan membagi-bagikan ilmu seperti itu, aku tidak takut mendapat pesaing baru. Justru kemampuan kita akan banyak terasah,” terang sosok yang mengidolakan Bob Sadino itu. “Yang penting bagi aku adalah bagaimana memenangkan persahabatan,” lanjutnya.

Naomi lantas bercerita soal struktur karyawan di perusahaannya. Menurut dia, setiap perusahaan harus punya kuda jinak dan kuda liar. “Tipe kuda jinak akan melindungi perusahaan, sementara kuda liar untuk marketing perusahaan,” jelasnya. Kuda liar itulah, kata dia, yang lebih banyak memberikan manfaat bagi bisnisnya.

Meski menakhodai banyak perusahaan, Naomi bukanlah sosok yang dikendalikan waktu. Sebagai bos, dia bebas ke mana saja. “Saya nggak punya waktu liburan yang terencana. Kalau mau liburan, ya langsung libur,” ujarnya. Ke mana tempat favorit berlibur? “Nggak ada. Saya bukan orang yang senang lihat gunung, senang lihat pantai. Pokoknya, pengin ke mana gitu, saya langsung ngajak keluarga berangkat,” terangnya.

Naomi kerap menggunakan cara-cara “mendadak” semacam itu untuk berlibur. “Enak rasanya bareng satu keluarga berlibur, biasanya kita carter pesawat,” tuturnya.

Naomi kini tinggal di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Barat. Sehari-hari, dia beraktivitas dengan BMW seri 3 berwarna merah yang telah dianggapnya sebagai kekasih. “Kalau naik mobil itu, saya seperti berada di rumah sendiri. Pokoknya, mobil itu lebih dari sekadar teman,” katanya.

Naomi kini mengaku benar-benar ingin menikmati hidup dengan lebih rileks, tak ingin terlalu diburu obsesi dan ambisi. Dia ingin menerapkan filosofi air; hadir dan mengalir. “Saya sebenarnya ditawari mengerjakan banyak proyek bisnis, tapi saya nggak mau aji mumpung. Harus ada yang ngerem saat kita digoda banyak obsesi,” ujarnya.

Prinsip Naomi adalah bagaimana mempertahankan kualitas dengan menolak penawaran proyek yang dalam jangka pendek jelas tak bisa dikerjakan. “Artinya, bisa mengukur diri,” imbuhnya. Karena itu, dia kini mengaku hanya fokus pada empat perusahaan. Lini perusahaan lainnya diserahkan kepada karyawan-karyawannya.

Dengan alasan itulah, banyak tawaran bisnis baru yang dikesampingkan. “Aku cuma ingin jadi pribadi yang seimbang,” tuturnya.

Maksudnya, lanjut dia, kehidupan ini harus diartikan secara seimbang, tidak melulu hanya untuk mencari pundi-pundi kekayaan. “Cobaan kan ada dua, saat susah dan senang. Nah, aku sekarang diberi cobaan dengan sesuatu yang enak. Aku harus ingat, aku juga harus mengutamakan orang-orang yang kusayangi,” terangnya.

Kini, Naomi juga sedang getol menularkan “filsafat kegagalan”. Jika orang berpikir be positive, dia malah mengusung tema be negative. Dia menulis buku berjudul Be Negative. “Saya ingin menjual kegagalan. Maksudnya, jangan takut gagal. Justru dari kegagalan itulah, kita harus belajar untuk menuju kesuksesan,” tuturnya.

Selain itu, dia banyak mengurusi pemberian beasiswa untuk lulusan-lulusan SMA di Indonesia. Mereka diberi beasiswa sekolah di Institute Otopreneur, Malaysia. “Aku rutin menjenguk anak-anak di Kuala Lumpur,” terangnya.

from Jawa Pos, Senin, 11 August 2008

Posted by: imronhamzah | August 10, 2008

Hermawan Kartajaya : Ekonomi Islam Itu Adil dan Indah

Guru marketing Hermawan Kartajaya sudah beberapa lama bergaul dengan
praktisi keuangan syariah. Ia mulai fasih mengatakan ajaran Islam
sebagai rahmatan lil alamin. Beragama Katolik, Hermawan malah berniat
ikut dalam mengembangkan nilai marketing Islami. Berikut adalah petikan wawancara dengan pendiri MarkPlus tersebut. Perlu dicatat, wawancara ini sudah lama (tepatnya tahun 2006), tapi saya tertarik memuatnya sesuai dengan concern saya di bidang pengembangan entrepreneur islam.

Sebetulnya apa beda marketing syariah dan konvensional?
Dalam dunia marketing itu ada istilah kelirumologi. Itu lho sembilan
prinsip yang disalah artikan. Misalnya marketing diartikan untuk
membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya. Atau marketing yang yang pada
akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus.
Atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja.
Itu salah satu kelirumologi ( merujuk istilah yang dipopulerkan Jaya
Suprana). Marketing syariah itu mengajarkan orang untuk jujur pada
konsumen atau orang lailn. Nilai syariah mencegah orang (marketer)
terperosok pada kelirumologi itu tadi. Ada nilai-nilai yang harus
dijunjung oleh seorang pemasar. Apalagi jika ia Muslim.

Apakah nilai marketing syariah bisa diterapkan umat lain?
Lha ya nilai Islam itu universal. Rahmatan lil alamin. Begitu kan
istilahnya. Nabi Muhammad itu menyebarkan ajaran Islam pasti bukan hanya
untuk umat Islam saja. Jadi tidak apa-apa jika nilai marketing syariah
ini inisiatif orang Islam supaya bisa menginspirasikan orang lain. Makin
banyak non-Muslim yang ikut menerapkan nilai ini, makin bagus. Saya ikut
mengendorse marketing syariah. Soal jujur itu kan universal. Jadi
marketing syariah harus diketahui orang lain dalam rangka rahmatan lil
alamin itu.

Apa nilai inti marketing syariah?
Integrity atau tak boleh bohong. Transparansi. Orang kan tak boleh
bohong. Jadi orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan
kebutuhan, bukan karena diskonnya. Itu jika konsep marketing dijalankan
secara benar.

Bagaimana muasal perkembangan nilai spiritual dalam marketing?
Sejalan dengan perkembangan dunia. Setelah September attack, orang
melihat IQ dan EQ saja tidak cukup. Harus ada SQ, spiritual quotient.
Orang melihat

Apakah nilai marketing syariah ini akan bertahan?
Ya pasti sustain. Karena prinsip dasarnya kejujuran. Ini yang dibutuhkan
semua orang. Apalagi setelah kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya.
Orang melihat bisnis itu harus jujur.

Lalu di mana peran ilmu marketing dalam konsep syariah?
Syariah mengendorse marketing dan marketing mengendorse syariah. Ilmu
marketing menyumbangkan profesionalitas dalam syariah. Karena jika orang
marketing tidak profesional, orang tetap tidak percaya. Lihat saja
bagaimana investor Timur Tengah belum mau investasi di Indonesia, meski
negara ini populasinya mayoritas Muslim. Karena mereka tidak yakin
dengan profesionalitas kita. Jadi, jujur saja tidak cukup.

Bukankan nilai kejujuran dan transparansi itu diajarkan semua agama?
Ya. Memang semua agama mengajarkan nilai itu. Tapi jangan lupa bahwa
islam itu rahmatan lil alamin. Jadi, ada titik singgung. Bukankah lebih
baik mencari yang serupa dari pada memperkarakan yang berbeda. Jika
begitu hidup kita damai. Menurut saya, tak mengapa kita sebut marketing
syariah. Karena mayoritas populasi di Indonesia itu Muslim. Jadi nilai
syariah yang kita kedepankan. Kita mulai di sini, di Indonesia. Ada
bagusnya jika yang mengendorse itu orang Islam, bukan yang lain.

Setelah nilai spiritual konsep apa lagi yang akan mengemuka dalam dunia
bisnis?

Millenium. Orang mencari keseimbangan. Maksudnya orang berbisnis itu
harus menjaga kelangsungan alam, tidak merusak lingkungan. Berbisnis
juga ditujukan untuk menolong manusia yang miskin dan bukan menghasilkan
keuntungan untuk segelintir orang saja. Nilai-nilai ini ke depan akan
mengemuka. Sekarang pertemuan para praktisi marketing mulai mengarah ke
sana.

Setelah mengenal Islam, apa pendapat Anda tentang nilai yang diajarkan?
Islam agama yang universal dan komprehensif. Guidance-nya lengkap. Ada
petunjuk untuk seorang pedagang, kepala negara, seorang anak, panglima
perang dan semuanya. Ada diatur secara lengkap. Di atas semua itu saya
melihat Islam itu ajaran yang damai dan indah. Ajaran Islam bisa dipakai
semua orang. Itu kesan saya dan mengapa saya mau mempelajari nilai Islam
untuk dikembangkan dalam konsep marketing. Saya sekarang menjadi aktivis
lingkungan dan nilai-nilai.

disadur dari Republika

Posted by: imronhamzah | August 10, 2008

Kejujuran Li Ka Seng

Pada kali ini, mari kita belajar dari salah satu taipan top Hongkong sekaligus salah satu orang terkaya di Asia. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Siapa dia? Yup, dia adalah Li Ka Seng. Cerita ini patut kita teladani dalam hal kejujuran dalam berbinis. Singkat cerita, Li Ka Seng awalnya berbisnis membuat pabrik plastik. Awalnya bisnisnya lancar. Namun kemudian memburuk, jadi memburuk dan lalu hampir bangkrut. Performance pabriknya jelek, karena kualitasnya memang kurang baik.

Melihat hal itu ibunya Li Ka Sing memanggil anaknya dan mulailah dia bercerita. Jaman dulu di Cina ada seorang pengusaha yang kaya raya. Dia memiliki 2 anak. Dia bingung menentukan siapa yang akan menentukan bisnisnya. Maka, dia mengambil 2 bakul (tempat beras) dan memanggil kedua anaknya. “Nak, masing-masing saya beri 1 bakul padi dan pergilah ke desa masing-masing. Tanamlah padi itu. Ini adalah padi wasiat kami. Setahun dari sekarang, bawalah hasilnya ke sini. Siapa yang membawa hasil yang lebih banyak nanti akan saya beri hadiah,” kata sang ayah.

Kembalilah kedua anak itu ke desanya masing-masing. Jaman dulu tidak terlalu canggih teknologi komunikasinya. Mereka tidak berhubungan baik antar anak atau dengan orang tuanya. Setahun kemudian 2 anak ini kembali ke ayahnya. Dari kejauhan ayahnya melihat yang sulung membawa padi yang banyak sekali. Sedang yang bungsu tidak membawa padi sebijipun.

Maka sang ayah tahu bahwa anak yang tidak membawa apa-apa inilah yang jujur. Sehingga si bungsu ini tidak hanya mendapat hadiah, tapi seluruh kekayaan sang ayah diberikan semua kepadanya. Sang sulung sempat bingung, kenapa si bungsu yang mendapat hadiah padahal dia yang malah membawa padi lebih banyak.

Sang ayah menjawab, “Padi yang saya berikan dulu adalah padi yang sudah masak. Jadi tidaklah mungkin bisa ditanam dan tumbuh. Kalau kamu menjadi orang besar dan sukses, kamu harus jujur kepada dirimu sendiri, jujur kepada pelangganmu, jujur kepada siapapun.”

Nah, cerita ibunya Li Ka Sing ini menjadi pelajaran bagi Li Ka Sing. Sehingga dia kemudian memperbaiki kualitas produknya. Pelajaran ini juga dibawa ke kehidupan bisnisnya dan pribadinya. Sehingga kemudian dia menjadi sukses luar biasa.

Semoga cerita ini dapat mengilhami anda untuk mau berbisnis dan jujur sebaik mugkin. Sehingga anda bisa menjadi lebih sukses di masa mendatang.

Posted by: imronhamzah | July 29, 2008

DAHSYATNYA DOA SANG JENDERAL

Kemudahan adalah satu kata yang senantiasa diinginkan oleh setiap orang. Bahkan, dalam do’a pun, kita mungkin sering minta kemudahan untuk segala urusan yang kita hadapi. Apalagi, di saat kita ditimpa kesusahan berupa musibah maupun himpitan ekonomi. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan para pengubah jaman. Rasulullah SAW misalnya. Dalam banyak hadits dan riwayat, do’a-do’a yang dicontohkan Rasululullah justru lebih banyak pada penguatan iman, ketabahan, kesabaran. Meski ada beberapa do’a yang isinya berupa minta kemudahan. Ini tidak lain karena di dalam do’a itulah kualitas seorang hamba bisa dilihat.
Seorang hamba yang di dalam do’anya selalu minta diberi ketabahan, kekuatan, kesabaran, biasanya imannya lebih kuat. Karena ia akan tegar meski diberi cobaan dan ujian. Rasulullah dan para Shahabat memberikan tauladan bagaimana di tengah peperangan dan teror para kaum musyrikin, beliau berdo’a untuk diberi kekuatan iman dan keiistiqomahan dalam berdakwah. Inilah mental seorang pemimpin atau leader sejati pengubah jaman.
Rupanya hal ini juga dilakukan oleh pemimpin perubahan lainnya. Pada masa Perang Dunia Kedua, tepatnya bulan Mei 1952 misalnya. Kita kenal seorang jenderal kenamaan, Douglas Mac Arthur yang menulis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul “Doa untuk Putraku”. Inilah isi puisi tersebut:
Doa untuk Putraku
Tuhanku…
Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan
Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja
Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan
Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan
Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain
Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka
Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau
Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya
Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: “Janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.” Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.
Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: “Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda.”
Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan!!
Bagaimana pendapat Anda?

By Imron Hamzah NIQ
Owner NIQ Property and Great Life, School of Entrepreneur Surabaya

« Newer Posts - Older Posts »

Categories